Nuris Mengikuti Kompetisi Sains Madrasah 2015

Masyarakat sudah tidak lagi menjadikan madrasah (sekolah khusus agama) sebagai media pendidikan kelas 2 (alternatif saja), tetapi sudah menjadi lembaga pendidikan utama bagi orang tua untuk menitipkan anaknya dalam rangka proses mencari ilmu kehidupan. Lulusan madrasah sudah dapat disejajarkan dengan lulusan sekolah umum bahkan madrasah memiliki nilai PLUS dibandingkan dengan sekolah umum. Lulusan madrasah lebih mudah beradaptasi apabila telah masuk jenjang sekolah umum termasuk Perguruan Tinggi, sedangkan lulusan sekolah umum kemungkinan cukup sulit untuk segera beradaptasi karena adanya materi pelajaran yang bermuatan “keagamaan” Islam. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selalu bangga menjadi siswa madrasah.

Siswa madrasah harus selalu berproses melakukan pembelajaran secara baik dan benar. Siswa madrasah tidak boleh puas dengan mendapatkan ilmu dalam proses belajar di internal madrasah yang menjadi lembaga belajarnya. Namun, siswa madrasah perlu juga mengikuti kegiatan pembelaran di luar aktivitas proses belajar rutin di lembaganya. Salah satunya, melalui pelibatan siswa madrasah dalam ajang-ajang kegiatan di luar, dimana salah satunya melalui keikutsertaannya dalam ajang seperti Kompetisi Sains Madrasah.

Kta “kompetisi”, dapat diartikan ‘bersaing, berlomba, bertanding dengan cara yang sehat’. Kompetisi harus dimaknai sebagai ajang “pembelajaran bagi siswa” yang ikut serta, jangan sampai kompetisi lebih dimaknai sebagai ajang ‘menang dan kalah’. Kalau dimaknai seperti ini, maka kompetisi hanya untuk dijadikan ajang “prestis” individu dan lembaga sekolah. Dengan ‘kompetisi’ dimaknai media pembelajaran siswa, maka tidak hanya siswa yang ikut saja yang melakukan pembelajaran tetapi para pendidik (Catatan: kata pengajar tidak dipakai dalam tulisan ini karena maknanya menjadikan guru madrasah hanya seperti robot, yaitu datang, absen, kasih materi, tugas kelas dan PR), lembaga juga secara langsung terlibat dalam kompetisi “pembelajaran” ini. Bagaimana para pendidik memberikan oritentasi dan arahan kepada siswa untuk persiapan ikut kompetisi, memberikan motivasi agar siswa memiliki kemantapan dan orientasi yang benar terkait niatan ikut kompetisi, bagaimana guru pendamping berperan terus selama proses kompetisi berlangsung sehingga siswa dapat bersemangat selama mengikuti kompetisi sains, bagaimana lembaga madrasah asal sekolah mempersiapkan administrasi siswa yang akan ikut kompetisi sains, manajamen panitia kompetisi agar pelaksanaannya dapat lancar dan berhasil  dengan didukung lembaga sekolah yang dijadikan sebagai tempat kompetisi sains, dan sekaligus kompetisi ini dijadikan ajang evaluasi atas proses pembelajaran siswa yang ada di lembaga sekolahnya masing-masing selama ini, apakah sudah cukup berhasil atau sebaliknya.

Dalam rangka pelaksanaan kompetisi tersebut, maka Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM 2), Kota Depok mengutus anak didiknya mulai kelas 1 sampai dengan kelas VI untuk berpartisipasi dalam Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2015 yang dilaksanakan di MI Sirodjul Athfal 3, Kecamatan Cipayung, Kota Depok pada 14 Maret 2015. KSM 2015 ini meliputi Membaca, Menulis dan Berhitung (Calistung) 1,2,3; Bidang IPA, Matematika dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Mahmoud Nuuramin Rais (Nuris) mewakili MIM 2, Depok untuk mengikuti kompetisi Calistung 3. Namun, sebagai peserta yang mengikuti KSM untuk kedua kalinya. Terlihat ada perbedaan kondisi psikoligis dia selama mengikut proses KSM 2015 ini. Dia lebih rileks mengikutinya, meskipun kondisi badannya sudah hampir 2 minggu ini kurang sehat sampai hari H pelaksanaan KSM 2015. Namun, kondisi seperti ini yang kami anggap cukup bagus. Hal ini, kemungkinan dia sudah mendapatkan arahan dari guru Pendamping (pak Rahmad) terkait motivasi untuk mengikuti KSM tahun ini.

foto0223Gambar Atas: Nuris (tengah) sedang mengikuti acara pembukaan Kompetisi Sains Madrasah Tahun 2015

foto0225 Gambar Atas: Nuris sedang santai bersama ibunya (Attik Roofiah, SPi) dan teman siswa lainnya dari MIM 2, Depok (Fahri, Diniyah, Aqila, Inayah, Jundi) paska mengikuti materi tahap I, KSM 2015..

Meskipun, hasilnya di luar dugaan bagi guru Pendamping dan orang tua siswa. Hal ini dikarenakan peserta siswa dari MIM 2, Depok yang mengikuti KSM Tahun 2015 ini tidak ada satu pun yang berhasil menjadi peserta terbaik. Namun, kembali pada tulisan ini bahwa KSM ini sebagai media pembelajaran bersama. Oleh karena itu, capaian atas siswa MIM 2, Depok pada KSM 2015 ini tidak perlu bahwa hal ini dianggap sebagai kegagalan proses belajar mengajar di madrasah, karenanya kita seharusnya lebih merenungkan bersama internal MIM 2, Depok mengapa hal ini dapat terjadi, apakah cara pimpinan madrasah yang keliru dalam proses memimpin sebuah lembaga pendidikan Islam selama ini, apakah guru sebagai pendidik yang kurang optimal dalam bertugas, apakah orang tua kurang memberikan dukungan dalam proses belajar anaknya, atau kah apakah sarana prasarana yang kurang mendukung dalam kegiatan proses pembelajaran siswa selama ini.

Oleh karenanya, kita menatap kedepan bagaimana MIM 2, Depok lebih memperhatikan pada: 1) Menyusun (revisi) kembali terhadap Rencana Kerja Sekolah dengan melibatkan semua pihak (guru, komite sekolah, pihak yayasan) agar RKS yang dihasilkan betul-betul sebagai dokumen yang dikerjakan bersama bukan buatan perorangan; 2) Pola pengelolaan proses belajar mengajar siswa, apakah sudah melibatkan semua dewan guru, komite sekolah sehingga ada proses musyawarah dalam setiap pengambilan kebijakan terkait siswa didik sehingga merasa memiliki terhadap kebijakan yang telah diambil tersebut dan jangan bertindak otoriter karena lembaga adalah milik bersama bukan perusahaan milik individu dengan target sasarannya lebih kepada keuntungan materi, tetapi madrasah lebih pada pencapaian target sasaran siswa yang memiliki kualitas keilmuan dan prilaku yang baik; 3) Perlu ada evaluasi secara rutin (bulan/triwulan/tahunan) karena kegiatannya evaluasi maka perlu melibatkan semua pihak yang berkepentingan (guru, komite sekolah, yayasan) sehinga solusi yang dihasilkan memberikan yang terbaik; 4) Libatkan secara aktif Komite Sekolah karena keberadaannya sudah ada payung hukumnya untuk terlibat mulai dari perencanaan sampai evaluasi terhadap proses belajar mengajar siswa di sebuah lembaga sekolah; 5) Keterbukaan dalam setiap hal terkait pengelolaan keuangan, karena masalah keuangan ini merupakan masalah yang sangat “RISKAN”, apabila sedikit saja ditutupi maka dampaknya akan sangat luas terkait ketidakpercayaan lagi kepada madrasah, dan 5) Dampak lebih lanjut adalah apakah masih ada orang tua yang mau menitipkan putra/putri nya, dengan kondisi madrasah yang kurang kondusif menunjang proses belajar mengajar (pemimpin otoriter, guru seperti robot bukan pendidik, ketidaktransfaranan pengelolaan keuangan, dsb); dan terakhir 6) Harus dilakukan reorientasi kembali terhadap visi, misi, tujuan keberadaan suatu madrasah dalam melahirkan generasi Islam yang militan, intelektual, berakhlak mulia, iaman yang kokoh dan bertaqwa.

Mari merenung, dikerjakan dan istiqomah melaksanakannya. Jangan pernah terjadi lagi kondisi di atas karena kejadian yang terjadi berulang-ulang itu bukan kesalahan akibat lupa tetapi suatu kesengajaan.

Wallahu’alambisawaab….

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s