JURNAL – Bunga vs Investasi dalam Ekonomi Islam

Peranan Bunga Dalam Pengeluran Investasi :

Tinjauan Ekonomi Islam

Oleh : Sasli Rais[1]

 

Abstraksi: in Islamic Economic System investment spending was more influenced by factors that are both subjectively and objectively. Subjective factors, such as imperfection of knowledge, risks and uncertainties that are always present in the investment process. While the objective factors, such as technological change, which in turn affects the production function, which means raises the demand for new capital; relative price changes which may also involve changes in relative wages, changes in relative prices of non-durable input to another, the change will result in changes in demand for output composition of the capital stock adjustment process but not faster than the existing old infrastructure capital, changes in demand that may be due to the movement of people geographically.

Key Word: Interest, Invesment, Islamic Economic

 

A.              PENGANTAR

Hari Sabtu dan Minggu kemarin. Saya, istri dan anak semata wayang memanfaatkannya untuk merapikan buku-buku baru dan lama yang pernah terbeli baik yang sudah agak lusuh maupun yang masih terbungkus rapi dengan plastik, menunjukkan bahwa buku ini belum pernah dibuka sampulnya apalagi dibaca. Demikian juga, tumpukan koran Harian Republika yang sudah hampir 10 tahun berlangganan berserakan di garasi, meskipun tidak dalam arti berserakan atau tercecer di lantai, tetapi karena letaknya meskipun diletakkan di almari tetapi sangat tidak rapi karena ada yang di atas, di sela-sela buku-buku  maupun peralatan dan perlengkapan motor kami. Sambil merapikan koran sekalian membaca-baca kembali lintasi berita dan tulisan yang pernah dimuat dan ternyata memang ya karena ada tulisan yang menarik. yang ditulis oleh salah satu Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Umar Juoro di Harian Republika ini. Tertulis artikel ini diterbitkan pada Senin, 14 April 2003 dengan judul ‘Kesenjangan Sektor Riil dan Keuangan’. Berdasarkan tulisan ini, ada beberapa hal pokok yang menarik untuk dapat disimpulkan oleh penulis, yaitu antara lain :

Pertama, bahwa kegiatan ekonomi sektor riil tidak selalu berjalan lurus (elastis) dengan ketersediaan dana, namun lebih pada bagaimana dana yang tersedia  digunakan untuk kegiatan produktif dan demikian juga kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah;

Kedua, Penurunan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sampai sebesar 11,3 % tidak otomatis pemberian kredit untuk investasi di sektor riil meningkat dikarenakan perbankan takut terjadinya kredit macet dan lebih berhati-hati setelah pasca krisis ekonomi;

Ketiga, Ketidaklancaran investasi dikarenakan perusahaan-perusahaan besar masih menghadapi restrukturisasi utang dan menyesuikan dengan keadaan serta perkembangan pasar.

B.              Bunga dan Bagi Hasil

Dalam Sistem Ekonomi Islam tidak dikenal adanya sistem bunga karena berdasarkan fiqh mua’malah, bunga dapat dianalogikan dengan riba, yaitu tambahan yang ditetapkan jumlahnya dan dikemukakan ketika akad (perjanjian) dilakukan maupun saat jatuh temponya. Dalam sistem bunga, investor seakan-akan tidak pernah mengalami kerugian dikarenakan investor selalu mendapatkan bunga itu dalam keadaan bagaimanpun situasi suatu perusahaan-mendapatkan untung atau mengalami kerugian. Jadi yang mendapatkan kerugian itu hanya pemilik perusahaan. Sedangkan dalam sistem bagi hasil merupakan hal yang diterapkan dalam setiap transaksi bisnis dalam ekonomi Islam. Bagi hasil itu hanya ditentukan dalam prosentase, misalnya 40 % dan 60 % atau lainnya yang terpenting jelas. Jadi bagi hasil itu dibagi setelah dikurangi biaya-biaya.

Dalam sistem bunga, seorang investor tidak mungkin mengalami kerugian karena berdasarkan rumus net present value, ® tingkat bunga pangkatnya selalu meningkat dengan lamanya waktu sehingga tingkat bunga merupakan tambahan terhadap modal yang ditambahkan. Sedangkan dalam bagi hasil, modal yang disetorkan oleh seorang investor dapat bertambah dengan laba yang didapat, mungkin juga modal tidak bertambah dan modal juga dapat berkurang karena mengalami kerugian. Jadi antara pemilik perusahaan dan investor dapat menanggung rugi dan laba bersama-sama.

C.               Bunga dan Sewa/Biaya Jasa

Uang memiliki karakter yang berbeda dengan barang dan komoditas lain, baik menyangkut daya tukar yang dimiliki, kepercayaan masyarakat terhadapnya maupun posisi hukumnya.

Sewa (hasil balas jasa) hanya dikenakan terhadap barang-barang seperti rumah, perabotan, alat transfortasi dan sebagainya, yang bersifat materi, yang apabila digunakan akan habis, rusak dan kehilangan sebagian dari nilainya-manfaat dan waktu. Biaya sewa/biaya jasa layak dibayarkan terhadap barang yang susut, rusak dan memerlukan biaya perawatan. Adapun uang tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Karena itu, menuntut sewa uang merupakan hal yang tidak beralasan.

Dalam disiplin ilmu ekonomi konvensional, kita seringkali mendapatkan rumus yang menempatkan posisi rent, wage dan interest sbb. :

( r ) K,(w) L, ( i ) M,

di mana : ( r )   K berarti rent untuk Kapital

(w)      L berarti wage untuk Labour

( i )   M berarti interest untuk Money

Rumus tersebut, menunjukkan bahwa padanan rent (sewa/biaya jasa) adalah aset tetap dan aset bergerak, sedangkan interest (bunga) padanannya uang.          

Secara ilmu ekonomi konvensional sekalipun, amatlah keliru apabila kita menempatkan rent (sewa/biaya jasa) untuk uang karena uang itu bukan aset tetap seperti rumah atau aset bergerak seperti mobil yang dapat disewakan.

D.              Peranan Bunga dalam Investasi Menurut Islam

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengeluaran investasi dalam Islam tidak berhubungan elastis, artinya apabila tingkat bunga rendah maka pengeluaran investasi akan meningkat dan apabila tingkat bunga tinggi maka pengeluaran investasi akan menurun.

 

i (bunga)

 

 

                                                           

                                                                                                                                                                             

                                                                                                                                                                  

 i*           A                                                    

 

     

                     B

 

 

                                         I D (demand)

 

 

I*              I**                                         I (investasi)

 

 

 

Jadi dalam Ekonomi Islam, bunga tidak memiliki peranan yang berarti dalam pengeluaran investasi bahkan tidak sama sekali karena variabel ‘bunga’ dibuang dari Sistem Ekonomi Islam. Oleh karena itu, dalam Sistem Ekonomi Islam pengeluaran investasi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor baik yang sifatnya subyektif maupun obyektif. Faktor subyektif tersebut, misalnya ketidaksempurnaan pengetahuan, resiko dan ketidaktentuan yang selalu terdapat pada proses investasi. Sedangkan faktor obyektif, misalnya perubahan teknologi yang pada akhirnya mempengaruhi fungsi produksi, yang berarti menimbulkan permintaan terhadap kapital yang baru; perubahan harga relatif yang mungkin menyangkut pula perubahan upah relatif, perubahan harga relatif input non-durable yang lain, misalnya tenaga listrik atau gas; perubahan permintaan output akan mengakibatkan perubahan komposisi stok kapital kecuali proses penyesuaiannya tidak lebih cepat dari usangnya kapital yang ada, perubahan permintaan itu mungkin dikarenakan perpindahan penduduk secara geografis, misalnya migrasi yang menyebabkan tambahan permintaan akan jasa, khususnya yang berkaitan dengan lokasi pemukiman baru tersebut. Perumahan dan pelayanan pemerintah tentunya merupakan suatu contoh yang menyolok, faktor adanya ketidakpastian keamanan, dan lain-lainya.

 

LITERATUR

 

Basyir, A.A., Hukum Islam Tentang Riba, Utang-Piutang Gadai, Al-Ma’arif, Bandung: 1983.

Haroen, Nasrun, Fiqh Mumalah, Cetakan 1, PT. Gaya Media Pratama, Jakarta: 2000.

Hasan, M. Ali, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, Cetakan Pertama, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2003.

Karim, Adiwarman, Rancang Bangun Ekonomi Islam, Jurnal Dirosah Islamiyah, Volume 1, Nomor 2 tahun 2003.

Rais, Sasli, Pegadaian Syariah: Kajian Kontemporer, Cetakan Pertama, UI Press, Jakarta: Mei 2005.

Saeed, Abdullah, Islamic Banking and Interest: Study of Riba and Its Contemporary Interpretation, Ruud Peters and Bernard Weiss (Ed), E.J. Brill, Leiden, New York: 1996.

Suhendi, Hendi, Fiqh Muamalah: Membahas Ekonomi Islam, Cetakan 1, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2002.

 

 

 


[1]Dosen Tetap, STIE Pengembangan Bisnis dan Manajemen, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s